BOYOLALI — Sepinya lorong sekolah dan ruang kelas yang nyaris kosong bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan kenyataan pahit yang dihadapi SDN Cepokosawit 2. Pada tahun ajaran baru 2026/2027, sekolah yang terletak di Kecamatan Sawit ini hanya mencatatkan satu nama di buku induk murid baru: Khansa, seorang siswi yang akan duduk di bangku kelas 1.
Kondisi ini bukanlah kejutan bagi para guru. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pendaftar di sekolah tersebut terus merosot. Tahun lalu, mereka masih kebagian tiga murid baru. Kini, angka itu susut drastis menjadi satu orang.
Meskipun jumlah murid sangat minim, semangat para tenaga pendidik di SDN Cepokosawit 2 tidak luntur. Komitmen untuk tetap mengajar dan memberikan pendidikan layak bagi Khansa menjadi prioritas utama.
“Kami tetap akan mengajar seperti biasa. Tidak ada alasan untuk tidak masuk kelas hanya karena muridnya sedikit. Ini tanggung jawab kami,” ujar salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Beberapa faktor disebut-sebut menjadi penyebab utama sepinya peminat di SDN Cepokosawit 2. Pertama, angka kelahiran di wilayah Boyolali dan sekitarnya yang terus menurun.
Kedua, banyak keluarga muda yang memilih pindah ke perkotaan atau menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta yang dianggap lebih bonafide. Ketiga, letak sekolah yang berada di pedesaan membuat akses transportasi menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua.
Kasus seperti ini menjadi teka-teki tersendiri bagi kebijakan zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang dicanangkan pemerintah. Sekolah dengan jumlah murid sedikit seperti SDN Cepokosawit 2 tetap harus beroperasi karena menjadi satu-satunya pilihan di radius tertentu.
Pemerintah Kabupaten Boyolali melalui Dinas Pendidikan setempat belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah strategis yang akan diambil. Namun, wacana penggabungan sekolah (merger) dengan sekolah dasar lain di kecamatan yang sama kerap mencuat dalam diskusi internal.
Bagi Khansa, satu-satunya siswi kelas 1, hari-hari sekolahnya akan berjalan dalam keheningan yang tidak biasa. Ia akan belajar di ruang kelas yang hanya diisi oleh dirinya sendiri dan seorang guru. Sebuah potret nyata krisis regenerasi di dunia pendidikan dasar Indonesia.