JAWA TENGAH — Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, mengungkapkan bahwa proyeksi tersebut berdasarkan survei terhadap pola belanja peserta tahun ini. "Ada kenaikan signifikan pada pengeluaran untuk akomodasi, transportasi, dan kuliner," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (10/2). Menurutnya, rata-rata peserta menghabiskan dana lebih besar dibandingkan peserta JAKIM 2025.
Lonjakan belanja peserta JAKIM 2026 diprediksi paling terasa di sektor perhotelan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar jalur lomba. BTN mencatat tingkat okupansi hotel di kawasan Monas hingga Bundaran HI naik hingga 85 persen selama akhir pekan penyelenggaraan. "Peserta tidak hanya datang dari Jakarta, tapi juga dari luar kota dan mancanegara," kata Nixon.
Selain itu, UMKM yang berjualan di area acara mencatatkan omzet rata-rata Rp3 juta per hari. Angka ini naik 20 persen dibandingkan edisi 2025. BTN juga menggandeng 200 pelaku UMKM binaan untuk menjadi vendor resmi di sepanjang rute lomba.
BTN menilai peningkatan belanja ini didorong oleh dua faktor. Pertama, durasi acara yang diperpanjang menjadi tiga hari, dari sebelumnya dua hari. Kedua, adanya paket wisata terintegrasi yang ditawarkan panitia, termasuk tiket masuk objek wisata dan transportasi umum gratis.
"Kami sengaja mendesain JAKIM bukan sekadar lari, tapi juga festival ekonomi," jelas Nixon. Peserta bisa menukarkan nomor lomba dengan diskon di 50 restoran dan pusat oleh-oleh di Jakarta. Skema ini, menurut BTN, mendorong peserta untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uang lebih banyak.
JAKIM 2026 menargetkan 15.000 peserta, meningkat dari 12.000 peserta tahun lalu. Hingga pekan lalu, pendaftaran sudah mencapai 80 persen dari kuota. BTN berencana menjadikan JAKIM sebagai agenda tahunan dengan skala ekonomi yang terus membesar.
"Ke depan, kami ingin dampak ekonominya bisa menembus Rp300 miliar," ujar Nixon. Bank pelat merah ini juga akan mengevaluasi rute lomba agar lebih banyak melibatkan kawasan usaha kecil, seperti Pasar Baru dan Glodok.