BREBES — Target retribusi Pasar Seng Makmur Bumiayu untuk 2026 naik menjadi Rp556,89 juta, sementara target retribusi parkir melonjak 124 persen menjadi Rp404,8 juta. Kepala Pasar Seng Makmur Bumiayu, Dwi Saputro, membenarkan kenaikan itu dan menyatakan pihaknya siap mengoptimalkan pengelolaan.
Namun para pedagang di lapangan punya cerita lain. Pasar yang mulai beroperasi sejak November 2022 itu belum sepenuhnya rampung. Sebagian pedagang masih berjualan di luar bangunan utama karena belum mendapat los di dalam.
Kondisi ini menimbulkan ketimpangan. Pembeli cenderung berbelanja di lapak-lapak luar yang lebih mudah dijangkau, sementara pedagang yang sudah menempati los di dalam justru sepi pembeli.
"Kami, para pedagang, berharap pemerintah kabupaten dapat memberikan perhatian lebih, terutama dalam penataan dan penyelesaian pembangunan pasar. Kalau semua pedagang sudah masuk ke dalam, pembeli pasti ikut masuk dan kami semua dapat kesempatan yang sama," kata Ipin, salah seorang pedagang.
Persoalan lain datang dari akses transportasi. Saat diresmikan, seluruh trayek angkutan umum diwajibkan masuk kawasan pasar. Kini kebijakan itu tidak lagi berjalan. Hampir tidak ada angkot yang masuk, sehingga pengunjung yang mengandalkan transportasi umum pun berkurang drastis.
Dwi Saputro mengakui keluhan pedagang. Ia menyebut berbagai upaya terus dilakukan untuk mengoptimalkan pengelolaan pasar, termasuk kelanjutan pembangunan Pasar Seng yang sudah diusulkan ke pemerintah kabupaten.
Kenaikan target retribusi tahun depan menjadi Rp556,89 juta—naik sekitar Rp100 juta dari realisasi 2025—berbanding terbalik dengan kondisi pasar yang masih timpang. Pedagang berharap sebelum target baru diberlakukan, pemerintah daerah lebih dulu menyelesaikan pembangunan dan menertibkan kembali trayek angkutan umum.
Jika tidak, kekhawatiran pedagang di dalam bangunan utama akan terus sepi sementara retribusi tetap berjalan. "Kami hanya ingin kesempatan yang sama," kata Ipin.