JAWA TENGAH — Berdasarkan data RTI pukul 09.05 WIB, IHSG berada di level 5.854 atau melemah 86 poin dari posisi penutupan sebelumnya. Indeks sempat menyentuh level terendah di 5.852 dan tertinggi 5.924. Nilai transaksi pagi ini tercatat Rp 1,18 triliun dengan volume 1,95 miliar lembar saham.
Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 100 saham yang berhasil menguat. Sebanyak 415 saham terpaksa melemah, sementara 166 saham lainnya stagnan. Artinya, hampir 60% saham yang aktif diperdagangkan berada dalam tekanan jual.
Ini bukan sekadar koreksi harian. Secara bulanan, IHSG sudah ambles 17,49%. Dalam tiga bulan terakhir, indeks kehilangan 28,65% nilainya. Bahkan secara year-to-date (YTD), IHSG sudah jeblok 32,24%. Angka ini menempatkan bursa saham Indonesia sebagai salah satu dengan performa terburuk di kawasan Asia sepanjang 2026.
Pelemahan dalam lima hari terakhir mencapai 5,59%, sementara secara semesteran indeks sudah merosot 30,20%. Jika dihitung dalam rupiah, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia diperkirakan sudah tergerus lebih dari Rp 1.000 triliun sejak awal tahun.
Tekanan jual di pasar saham Indonesia dimulai sejak pertengahan Mei 2026. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) secara konsisten di pasar reguler. Data menunjukkan arus modal asing keluar dari pasar saham Indonesia sudah mencapai lebih dari Rp 30 triliun sepanjang bulan lalu.
Dari sisi domestik, kekhawatiran terhadap perlambatan konsumsi rumah tangga dan ketidakpastian kebijakan fiskal menjadi pemicu utama. Sementara dari global, penguatan dolar Amerika Serikat dan sikap hawkish bank sentral AS (The Fed) membuat investor emerging market, termasuk Indonesia, memilih keluar dari aset berisiko.
Level 5.800 kini menjadi garis pertahanan terakhir IHSG. Jika indeks menembus level tersebut, bukan tidak mungkin IHSG menguji level support berikutnya di kisaran 5.500-5.600. Analis di beberapa sekuritas besar sudah mulai merekomendasikan strategi defensif, seperti memindahkan portofolio ke saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat atau instrumen pendapatan tetap.
Pasar kini menunggu langkah Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur pekan depan. Jika BI menaikkan suku bunga acuan untuk menahan pelemahan rupiah, tekanan di pasar saham berpotensi bertambah. Sebaliknya, jika BI memilih menahan suku bunga, setidaknya ada sedikit ruang napas bagi IHSG.
Investasi mengandung risiko.