Rupiah Terperosok ke Rp17.844 per Dolar AS, Terseret Konflik Timur Tengah dan Musim Repatriasi Dividen

Penulis: Oki Setiawan  •  Senin, 01 Juni 2026 | 10:28:52 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.844 per dolar AS dipengaruhi konflik Timur Tengah dan musim repatriasi dividen.

JAWA TENGAH — Tekanan terhadap rupiah pagi ini tidak berdiri sendiri. Mata uang Asia kompak terdepresiasi, dengan won Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 0,71 persen, diikuti baht Thailand (0,17 persen) dan peso Filipina (0,18 persen). Mata uang utama negara maju seperti euro dan franc Swiss juga tak luput dari tekanan, masing-masing melemah 0,12 persen dan 0,27 persen.

Dua Beban Sekaligus: Geopolitik dan Arus Valas Musiman

Bank Indonesia (BI) mencatat ada dua faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah. Pertama, ketidakpastian global yang masih tinggi akibat konflik di Timur Tengah, khususnya perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemui titik terang.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam pernyataan resmi pada Jumat (29/5) lalu.

Kedua, BI mencatat adanya peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Memasuki pertengahan tahun, permintaan valas membengkak untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan. Sayangnya, arus masuk dolar AS ke dalam negeri saat ini masih terbatas, sehingga menambah tekanan pada kurs.

Analis: Rupiah Bergerak Terbatas, Data Domestik Jadi Kunci

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini. Ia menilai investor masih bersikap wait and see menunggu kejelasan kesepakatan AS-Iran.

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," kata Lukman kepada media, Senin (1/6).

Ia menambahkan, penurunan harga minyak mentah dunia bisa menjadi sentimen positif bagi rupiah. Mengingat Indonesia masih menjadi net importir minyak, harga energi yang lebih rendah berarti beban impor berkurang dan tekanan terhadap neraca perdagangan bisa mereda.

BI Siaga di Pasar, Intervensi Jadi Andalan

Menghadapi tekanan ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar. Ramdan Denny Prakoso menyatakan pihaknya akan melakukan intervensi melalui berbagai instrumen yang dimiliki untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

"Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.

Pernyataan ini menjadi sinyal bagi pelaku pasar bahwa BI tidak akan tinggal diam. Intervensi ganda, baik di pasar spot maupun melalui operasi moneter, kemungkinan akan terus dilakukan untuk meredam volatilitas rupiah yang berlebihan dalam waktu dekat.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top