Thomas Hitzlsperger Ungkap Stereotip Perang Dunia II di Aston Villa

Penulis: Lukman Hakim  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:02:02 WIB
Thomas Hitzlsperger saat memperkuat Aston Villa di Liga Premier Inggris.

JAWA TENGAH — Thomas Hitzlsperger mengungkap pengalaman uniknya selama lima tahun berseragam Aston Villa. Gelandang asal Jerman itu mengaku lebih sering menghadapi stereotip Perang Dunia II ketimbang isu homofobia di Inggris. Pengakuan ini disampaikannya dalam wawancara eksklusif dengan FourFourTwo.

Hitzlsperger tiba di Birmingham pada 2000 sebagai remaja 18 tahun setelah dilepas Bayern Munich. Ia menghabiskan lima tahun memperkuat Aston Villa di Liga Premier Inggris. Selama periode itu, ia mengaku tidak pernah menjumpai perdebatan soal homofobia di lingkungan klub.

Dari Bavaria ke Birmingham: Awal Karier di Inggris

Pemain kelahiran Forstinning, Bavaria, ini tumbuh di keluarga besar dengan sembilan anggota rumah tangga. Sepak bola menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya sejak kecil. Ia mulai bergabung dengan akademi Bayern Munich pada usia tujuh tahun.

"Saya mulai bermain untuk Bayern Munich pada usia tujuh tahun dan mimpi langsung menjadi pesepak bola profesional," ujar Hitzlsperger. "Ketika Anda bekerja keras dalam hidup, kesuksesan akan datang jika Anda terus mendorong."

Dukungan keluarga menjadi fondasi kariernya. Ayahnya pernah bermain sepak bola sebelum cedera memaksa pensiun, sementara lima kakak lelakinya juga mencintai permainan si kulit bundar.

Stereotip Jerman di Inggris Lebih Terasa daripada Isu Homofobia

Selama lima tahun di Birmingham, Hitzlsperger mengaku tidak menghadapi perdebatan soal orientasi seksual. Yang lebih sering ia rasakan justru stereotip sebagai orang Jerman di Inggris.

"Di Aston Villa, itu lebih tentang stereotip menjadi orang Jerman di Inggris dan retorika perang yang konyol," kata Hitzlsperger. "Menghadapi stereotip itulah yang memulai proses berpikir bagi saya."

Ia menegaskan homofobia bukan sesuatu yang terlintas di pikirannya selama membela Villa. Baru setelah meninggalkan Stuttgart pada 2010 dan bergabung dengan Lazio di Roma, ia mulai mengamati lingkungan sekitarnya dan menyadari identitas seksualnya.

Kisah Tragis Justin Fashanu yang Mengubah Cara Pandang

Hitzlsperger juga menyoroti kisah Justin Fashanu, pesepak bola profesional pertama yang mengungkapkan orientasi seksualnya. Fashanu melakukannya satu dekade sebelum Hitzlsperger tiba di Inggris.

"Kisahnya sangat tragis dan orang hanya bisa membayangkan rasa sakit yang harus dia lalui," ujar Hitzlsperger. "Sungguh mengerikan bahwa dia merasa harus mengungkapkan bahwa dia gay, karena dia pikir media akan membongkarnya."

Fashanu mengakhiri hidupnya sendiri, sebuah akhir yang menurut Hitzlsperger sangat memilukan. Saat Fashanu melakukan pengakuan tersebut, Hitzlsperger masih berusia delapan tahun dan belum menyadari peristiwa itu.

Konteks Sosial Bavaria Era 1980-an

Masa kecil Hitzlsperger di Bavaria pada dekade 1980-an diwarnai lingkungan konservatif. Topik homoseksualitas nyaris tidak pernah dibicarakan di komunitasnya.

"Tumbuh di komunitas kecil Forstinning di Bavaria, saya tidak akan mengatakan homoseksualitas itu abnormal, tetapi pada 1980-an tidak ada paparan tentang hal itu," jelasnya. "Itu bukan sesuatu yang dibicarakan dan topiknya tabu."

Kesadaran akan identitasnya baru muncul belakangan. Ia kemudian mempertanyakan bagaimana harus menghadapi kenyataan tersebut di tengah lingkungan yang belum terpapar isu serupa.

Kisah Hitzlsperger menjadi refleksi tentang bagaimana sepak bola Eropa perlahan membuka ruang diskusi soal inklusivitas. Kampanye Football v Homophobia yang berjalan sepanjang tahun terus menyuarakan penghapusan diskriminasi anti-LGBTQ+ di semua level permainan.

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top