Kendaraan Listrik Masuk Tambang Kalimantan Timur, Ini Tantangan Nyatanya

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Selasa, 29 September 2026 | 19:33:01 WIB
Truk angkut listrik beroperasi di kawasan pertambangan Kalimantan Timur.

JAWA TENGAH — Sebanyak 18 truk angkut bertenaga listrik sudah beroperasi di kawasan pertambangan Kalimantan Timur, dengan unit pertama mendekati satu tahun pemakaian. Meski secara operasional dianggap mampu, adopsi kendaraan listrik di dunia tambang masih terganjal kesiapan pasokan listrik, infrastruktur pengisian daya, hingga kompetensi pengemudi dan teknisi. Biaya kepemilikan dan ketahanan baterai jadi dua hal yang paling menentukan apakah teknologi ini benar-benar layak diperluas.

PT Indotruck Utama bersama Perkumpulan Tenaga Ahli Berat Indonesia (Pertaabi) menggelar diskusi bertajuk 'Renewable Energy on Machine Application' untuk membahas kesiapan elektrifikasi di sektor pertambangan. Dari forum itu terungkap bahwa sejumlah unit kendaraan listrik sudah dipakai dalam operasional tambang di Indonesia, meski skalanya masih terbatas dan penuh catatan.

Praktisi operasi tambang Agung Budi Prasetya menekankan bahwa sebelum kendaraan listrik dipakai lebih luas, uji coba harus dilakukan lebih dulu. Tujuannya membuktikan unit bertenaga listrik benar-benar bisa memenuhi kebutuhan operasi harian.

Uji Coba Jadi Syarat Wajib Sebelum Perluasan

Agung menyebut ada sejumlah aspek yang wajib dievaluasi dalam uji coba tersebut. Mulai dari keselamatan, produktivitas, konsumsi energi, pola pengisian, emisi, hingga tingkat ketersediaan unit dan downtime.

"Uji coba sebaiknya dilakukan untuk mendapatkan bukti bahwa unit bertenaga listrik dapat memenuhi kebutuhan operasi. Yang dievaluasi mencakup aspek keselamatan, produktivitas, konsumsi energi, pola pengisian, emisi, availability, sampai downtime," ujar Agung dalam siaran pers yang diterima detikOto.

Ekosistem pendukung jadi prasyarat berikutnya. Pasokan dan sistem kelistrikan harus mampu menopang operasi, sementara durasi pengisian baterai perlu dihitung terhadap waktu kerja yang tersedia. Kompetensi pengemudi dan teknisi juga harus disesuaikan, termasuk kesiapan suku cadang di lapangan.

Beda Perlakuan untuk Unit Besar dan Kendaraan Ringan

Menurut Agung, unit kendaraan elektrik berkapasitas besar lebih menuntut kesiapan infrastruktur sebagai dasar operasional. Sementara kendaraan ringan dinilai berdasarkan tingkat pemanfaatannya.

Ahli dari Pertaabi, Sahala Sigalingging, menambahkan bahwa beberapa unit truk listrik sudah dipakai di dunia pertambangan. Di kawasan Kalimantan Timur, tercatat 18 truk angkut bertenaga listrik yang sudah beroperasi.

Sebagian unit sudah berjalan selama delapan bulan, sementara unit pertama mendekati satu tahun pemakaian. Angka itu jadi bukti awal bahwa kendaraan listrik bukan sekadar konsep di sektor tambang.

Kalimantan Timur Jadi Lokasi Uji Nyata

"Secara operasional, unit elektrik sudah bisa digunakan. Tantangan berikutnya adalah memastikan ekosistem komersial dan operasionalnya siap ketika penggunaannya diperluas," ujar Sahala.

Sahala menegaskan pemilihan kendaraan untuk unit pertambangan harus memenuhi prinsip fit for application. Kapasitas dan dimensi kendaraan wajib disesuaikan dengan kondisi area kerja serta jalur angkut.

Konsekuensinya, penyesuaian unit bisa memakan waktu hingga beberapa tahun agar benar-benar cocok dengan kebutuhan tambang. Ini bukan proses instan seperti membeli kendaraan niaga biasa.

Biaya Kepemilikan dan Ketahanan Baterai Jadi Penentu

Perhitungan biaya kepemilikan juga tidak bisa dilewatkan. Hitungan itu mencakup infrastruktur pengisian, pemeliharaan, produktivitas, serta nilai sisa kendaraan di akhir masa pakai.

Praktisi kendaraan niaga dan logistik bertenaga listrik, Richo Billy Wulur, menyoroti dua tantangan lain: ketahanan baterai dan layanan purnajual. Bagi produsen, hal ini bisa dijawab dengan garansi baterai hingga delapan tahun atau skema penggantian bila kapasitasnya turun di bawah 75 persen.

Skema garansi semacam itu jadi penting karena baterai menyumbang porsi besar dari total biaya kendaraan listrik. Tanpa jaminan yang jelas, operator tambang akan sulit menghitung risiko investasi jangka panjang.

Yang Perlu Diperhatikan

  • Skala operasi masih kecil: 18 unit di satu kawasan belum menggambarkan kesiapan untuk tambang skala besar di seluruh Indonesia
  • Infrastruktur pengisian daya di lokasi tambang terpencil masih jadi kendala utama
  • Waktu penyesuaian unit bisa mencapai beberapa tahun, artinya adopsi massal belum bisa cepat
  • Belum ada data terbuka soal biaya per ton material yang dipindahkan dibanding truk diesel konvensional

Bagi operator tambang yang mempertimbangkan elektrifikasi, langkah paling masuk akal adalah memulai dari unit kecil dengan pola operasi tetap. Uji coba terukur, lalu evaluasi menyeluruh sebelum menambah unit. Untuk area kerja berat dan jarak angkut panjang, truk diesel masih sulit digantikan dalam waktu dekat.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top