JEPARA — Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara, Mudhofir, menegaskan bahwa ketersediaan air harus menjadi pertimbangan utama petani di setiap musim tanam. Pasalnya, tidak semua lahan memiliki pasokan air yang memadai saat kemarau berlangsung.
“Pemkab Jepara berupaya bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan petani agar penggunaan air bisa lebih efisien,” ujar Mudhofir, Minggu (27/9).
Menurut Mudhofir, kekurangan air berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman. Jagung, misalnya, berisiko mengalami kekeringan jika kebutuhan airnya tidak tercukupi.
Karena itu, PPL diminta mendampingi petani menyesuaikan pola dan teknik tanam dengan kondisi air di wilayah masing-masing. Data kondisi lahan dan persoalan yang dialami petani dipakai untuk menentukan langkah penanganan.
Upaya tersebut diarahkan untuk menekan risiko tanaman puso atau gagal panen akibat kekurangan air.
DKPP Jepara tahun ini membangun 30 titik sumur dalam. Tiga di antaranya menggunakan tenaga surya untuk mendukung operasional pompa, terutama di lokasi yang dinilai memberi manfaat besar bagi pertanian.
Selain sumur dalam, Pemkab Jepara mendorong pembangunan embung di lokasi yang memiliki sumber air. Salah satunya Embung Belik Gesing di Desa Bringin dengan kapasitas sekitar 500 meter kubik.
Embung tersebut dapat membantu pengairan lahan pertanian sekitar 11 hektare. “Kalau ada sumber air di dekat lahan pertanian, kami minta diinformasikan agar bisa kami fasilitasi,” kata Mudhofir.
Meski begitu, embung tetap tidak bisa menjamin air tersedia sepanjang musim kemarau. Jika sumber airnya terbatas dan kemarau berlangsung panjang, embung juga bisa mengering.
Di Desa Bringin, keberadaan Embung Belik Gesing sudah dimanfaatkan Kelompok Tani Ngudi Karaharjan 1. Embung yang dibangun melalui bantuan Kementerian Pertanian itu digunakan untuk membantu kebutuhan air bagi sekitar 20 petani.
Para petani di kelompok tersebut menanam padi, jagung, dan kacang. Ketua Kelompok Tani Ngudi Karaharjan 1, Zainal Sholikin, mengaku pasokan air lebih terjamin sejak embung beroperasi.
“Adanya embung membuat debit air lebih terjamin,” terang Zainal.
Dari sekitar 21 ribu hektare Lahan Baku Sawah (LBS) di Jepara, sekitar 30 persen masih ditanami padi pada musim tanam ketiga. Kondisi ini membuat kebutuhan air menjadi perhatian, terutama di wilayah yang sebelumnya pernah mengalami kekeringan seperti Kecamatan Kedung.
BMKG memprediksi musim kemarau masih berlangsung hingga Oktober di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Kemarau panjang berdampak pada jumlah debit air pada persawahan untuk petani.