TEGAL — SMK Muhammadiyah 1 Kota Tegal terpilih sebagai perwakilan sekolah yang didampingi langsung jajaran TNI AL Lanal Tegal dalam program baru ini. Kepala SMK Mutu, Neneng Fitria Sari, menyatakan pihaknya siap memberikan dukungan penuh demi membentuk karakter siswa yang tangguh.
Peluncuran nasional KKRI sendiri digelar serentak oleh pemerintah di 670 SMA, SMK, dan MA se-Indonesia. Di Kota Tegal, grand launching dipusatkan di Mini Theatre SMK Mutu dan dihadiri Pasiter Lanal Tegal, Kapten Laut (P) Agus Efendi Bunyadi.
KKRI bukan sekadar kegiatan baris-berbaris. Siswa yang bergabung akan ditempa fisik, mental, jiwa kepemimpinan, hingga wawasan kebangsaan.
Program ini juga membekali siswa dengan soft skills berstandar khusus yang dibuktikan lewat sertifikat resmi. Mulai dari pelatihan kerja sama tim, keberanian, tes bakat dan minat, hingga tes IQ.
Sertifikat tersebut menjadi nilai tambah bagi siswa yang berniat mendaftar ke sekolah kedinasan atau militer, maupun mereka yang langsung melamar kerja setelah lulus.
Pasiter Lanal Tegal, Kapten Laut (P) Agus Efendi Bunyadi, menyatakan kesiapan institusinya untuk mendampingi penuh perjalanan ekskul ini.
"Kami berharap kegiatan KKRI ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi siswa-siswi," ujarnya.
Program bernuansa militer seperti kadet sering memunculkan salah kaprah di tengah masyarakat. Banyak yang bertanya apakah anak-anak nantinya dipaksa jadi tentara.
Kepala Badan Cadangan Nasional (Bacadnas) Kementerian Pertahanan, Letjen TNI Gabriel Lema, memberikan penegasan saat peluncuran nasional. Menurutnya, siswa yang ikut KKRI tidak harus menjadi prajurit.
"Bela negara pelajar dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Seperti belajar dengan sungguh-sungguh, disiplin, menghormati guru dan orang tua, menjaga persatuan, hingga menjauhi perundungan (bullying)," jelas Gabriel.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menambahkan bahwa keikutsertaan siswa di KKRI bukan berarti wajib militer. Program ini disebut sebagai panggilan untuk menjadi elemen pertahanan negara secara luas.
Hal itu dinilai relevan di tengah maraknya ancaman nonmiliter modern saat ini.
"Ketika sekolah menyelenggarakan pembinaan kesadaran bela negara, sebetulnya sekolah sedang memenuhi hak yang dimiliki oleh murid-murid kita," pungkas Atip.