Pemkot Semarang Tata Ulang Gang Baru dan Pasar Semawis Jadi Destinasi Wisata Budaya Pecinan

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Sabtu, 26 September 2026 | 14:31:01 WIB
Wali Kota Semarang Agustina membuka Mooncake Festival 2026 di halaman Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, Kamis (24/9/2026).

SEMARANG — Rencana penataan Gang Baru dan Pasar Semawis disampaikan Agustina saat membuka Mooncake Festival 2026 di halaman Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, Kamis (24/9/2026). Kawasan Pecinan yang berada tidak jauh dari Kota Lama itu dinilai menyimpan potensi budaya yang belum sepenuhnya tergarap.

Agustina menegaskan, revitalisasi bukan proyek yang mengubah kawasan secara drastis. Warga yang sudah lama menghuni permukiman Pecinan tetap menjadi bagian dari penataan itu sendiri.

Pecinan Bukan Kawasan Kuno yang Tertinggal

Selama ini Pecinan kerap dipandang sebagai kawasan kuno dan tertinggal. Agustina menolak cara pandang itu. Menurutnya, kawasan tersebut bisa menjadi ruang budaya yang hidup dan terbuka bagi siapa saja.

"Kalau orang dulu melihat Pecinan sebagai kawasan yang kuno, tapi saya melihat sisi yang berbeda. Saya melihat ada keindahan, keakraban, keasyikan, dan gotong royong," katanya.

Penataan Gang Baru dan Pasar Semawis disebut akan berjalan seiring dengan upaya merawat keberagaman budaya di kawasan tersebut. Semangat kebersamaan antarwarga dan pemerintah menjadi kunci pelaksanaannya.

"Kota Semarang ini bukan sekadar bicara masa lalu. Kota ini adalah titik pertemuan antara masa lalu dan masa kini, yang akan mendorong perahu kita maju menuju masa depan," ujar Agustina.

Mooncake Festival 2026 Digelar Menyatu Lintas Komunitas

Pembukaan festival diawali penampilan Tari Kipas Batik Semarang yang dibawakan penari berhijab. Penampilan itu dibaca sebagai simbol keberagaman yang tumbuh organik di tengah masyarakat Semarang.

Perubahan lain terlihat dari cara penyelenggaraannya. Mooncake Festival sebelumnya dirayakan terpisah oleh komunitas Tionghoa. Tahun ini, penyelenggaraannya sengaja disatukan sebagai wujud semangat kebersamaan yang ingin terus dijaga di kawasan tersebut.

"Maka saya ingin hari ini kita bersama-sama menjadi satu," katanya.

Sejarah Cheng Ho Disajikan Lewat Pertunjukan Imersif

Rangkaian festival juga memakai pendekatan teknologi untuk mendekatkan sejarah kepada generasi muda. Salah satu pertunjukan imersif mengangkat kisah sejarah Laksamana Cheng Ho dengan visualisasi modern.

Cara itu dipilih agar cerita sejarah lebih mudah dijangkau anak muda, tanpa kehilangan konteks budaya yang ingin dirawat di kawasan Pecinan.

Sembako hingga Tradisi Tok Panjang Mewarnai Rangkaian Acara

Agustina membagikan paket sembako dan nasi kotak kepada warga sekitar kelenteng. Pembagian itu menjadi rangkaian sosial dalam festival yang menyertai agenda budaya.

Acara berlanjut dengan tradisi Tok Panjang, jamuan makan bersama yang mempertemukan warga, pengurus kelenteng, dan jajaran pemerintah dalam satu meja panjang.

"Tok Panjang adalah tradisi jamuan yang dinikmati bersama. Hidangannya juga tidak boleh terlalu banyak, karena justru hidangan inilah yang akan membuat kita bercerita dan bercengkrama," ujar Agustina.

Penataan Gang Baru dan pengembangan Pasar Semawis menambah daftar kawasan di Semarang yang disiapkan sebagai ruang wisata berbasis budaya, melengkapi Kota Lama yang selama ini menjadi magnet kunjungan.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: indoraya.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top