JAWA TENGAH — Volkswagen AG mencatatkan kerugian penghapusan nilai (writedown) sebesar €6 miliar atau sekitar Rp122,8 triliun atas 75 persen sahamnya di Porsche. Angka ini muncul tak lama setelah grup mengumumkan restrukturisasi terbesar dalam 89 tahun sejarahnya, dan menandai berakhirnya era Porsche sebagai mesin laba utama Volkswagen.
Penghapusan nilai tersebut diumumkan Volkswagen pada Jumat (18/9), hanya berselang beberapa hari setelah kesepakatan pemangkasan dalam restrukturisasi besar-besaran disetujui. Langkah ini menyusul penurunan nilai Porsche sebesar €2,7 miliar atau sekitar Rp55,3 triliun yang sudah dibukukan setahun sebelumnya.
Analis Jefferies menilai writedown ini sebagai bukti kurangnya pengawasan Volkswagen terhadap anak usahanya. Ingo Speich dari Deka, salah satu investor top-10 Volkswagen, menyebut sinyal itu datang di waktu yang buruk.
"Situasinya tetap sangat rapuh, dan visibilitasnya sangat terbatas. Masih harus dilihat apakah langkah restrukturisasi yang diumumkan akan cukup," kata Speich kepada Reuters.
Porsche melantai di bursa Eropa pada 2022 dengan catatan rekor. Kurang dari empat tahun kemudian, posisinya berbalik. Analis otomotif Ferdinand Dudenhoeffer menyatakan masa kejayaan Porsche sebagai penopang laba grup sudah selesai.
Margin Porsche yang dulu tebal kini merosot di bawah rata-rata grup. Bahkan Skoda, merek mobil murah Volkswagen, kini mencatatkan margin lebih baik.
"Dengan strategi nilai di atas volume, Porsche makin lama makin mengecil. Bahkan jika margin labanya bagus, labanya sendiri akan cukup tipis," ujar Dudenhoeffer.
CEO Porsche Michael Leiters tetap bersikukuh pada target margin jangka menengah 10 sampai 15 persen. Dalam memo internal yang dilihat Reuters, ia menyatakan tidak ada proyeksi baru untuk Porsche, baik untuk tahun bisnis berjalan maupun target jangka menengah, menjelang capital markets day Oktober.
Porsche sudah menarik diri dari pasar China dan kini tertekan tarif di Amerika Serikat. Dua faktor ini membuat volume penjualannya semakin sulit diprediksi.
Leiters mengarahkan fokus ke model kelas atas demi mengejar margin dua digit. Namun Porsche tetap membutuhkan penjualan besar untuk mendanai kas restrukturisasi.
"Tekanannya tidak bisa lebih besar dari saat ini," kata Stefan Bratzel dari lembaga riset otomotif Jerman, CAM.
"Memangkas biaya saja tidak akan membantu Volkswagen keluar dari krisisnya," ujar Bratzel menambahkan.
Penghapusan nilai €6 miliar membuat goodwill Volkswagen atas Porsche anjlok lebih dari sepertiga. Nilainya turun dari €18,8 miliar atau sekitar Rp384,8 triliun pada 2022 menjadi €10 miliar atau sekitar Rp204,7 triliun.
Analis otomotif independen Matthias Schmidt menilai Skoda kini mengambil alih peran yang dulu dipegang Porsche di dalam grup.
"Merek asal Ceko itu efektif menjadi Porsche baru di grup ini," kata Schmidt.
Tekanan yang sama juga dirasakan Mercedes-Benz dan BMW yang memangkas tenaga kerja di Jerman. Serikat pekerja di sana menuntut proteksi dari Brussels terhadap kendaraan murah asal China.
Belum jelas apakah langkah restrukturisasi ini cukup membantu CEO Oliver Blume mencapai target margin operasi 9 persen pada akhir dekade. Capaian tahun ini hanya 1 persen.
Blume mengawasi penurunan posisi Porsche sebagai kepala merek tersebut hingga akhir 2025, sembari merangkap CEO Volkswagen AG. Analis Bernstein menilai penurunan proyeksi laba Porsche justru bisa membantu dorongan Blume untuk memangkas lebih dalam.
"Kalau seseorang berpikiran sinis, penurunan besar-besaran dalam proyeksi laba ini bisa dilihat sebagai hal yang membantu," kata mereka.
Ribuan pekerja di pabrik mobil se-Jerman berunjuk rasa menolak pemangkasan pada Senin (21/9). Gelombang protes itu mencerminkan tekanan yang lebih luas pada industri otomotif Jerman akibat gempuran kendaraan China dan kebijakan tarif Amerika Serikat.