JAWA TENGAH — Prilly Latuconsina kembali membintangi film horor garapan Umay Shahab berjudul Memburu Pemangsa yang mengangkat isu kekerasan seksual terhadap anak. Dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (21/9/2026), aktris berusia 29 tahun itu berharap film ini bisa menyebarkan informasi kepada orang yang tepat. Ia menilai masih ada budaya diam di tengah masyarakat saat menanggapi kasus kekerasan anak.
Prilly Latuconsina menyoroti fenomena budaya diam yang masih terjadi di sejumlah lingkungan ketika kasus kekerasan anak mencuat. Menurutnya, informasi soal kekerasan seksual terhadap anak sebenarnya sudah banyak beredar, tetapi respons yang muncul sering kali tidak berkelanjutan.
"Informasi mengenai kekerasan seksual anak sudah banyak, tetapi masih ada budaya diam di beberapa lingkungan. Ketika berita tersebut viral selama satu atau dua hari, terkadang tidak ada penanganan yang tepat," ujar Prilly dalam jumpa pers film Memburu Pemangsa di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Ia menegaskan bahwa orang dewasa memegang peran penting dalam merespons kasus yang menimpa anak-anak. Alasannya, anak-anak belum memiliki kontrol penuh untuk melindungi diri sendiri dari situasi berbahaya.
Memburu Pemangsa disutradarai Umay Shahab dan menempatkan Prilly sebagai Cia, tokoh yang memiliki kedekatan personal dengan isu yang diangkat. Film ini kembali mempertemukan Prilly dengan genre horor setelah sebelumnya dikenal lewat seri Danur.
Isu kekerasan seksual terhadap anak menjadi tema sentral cerita. Prilly berharap film ini tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga menjadi medium penyebaran informasi yang menjangkau orang-orang yang tepat.
"Saya berharap film ini bisa menjadi medium untuk menyebarkan informasi kepada target yang tepat dengan cara yang lebih sesuai," ujarnya.
Prilly menjelaskan bahwa Cia memiliki latar belakang yang dekat dengan isu dalam film ini. Karakter tersebut digambarkan sebagai sosok yang menjaga keponakannya, Pandu, dan memiliki rasa khawatir yang tinggi.
"Cia punya latar belakang yang cukup dekat dengan isu ini. Dia menjaga keponakannya, Pandu, dan memiliki rasa khawatir yang tinggi. Jadi, apa pun yang dilakukan Cia sebenarnya bersumber dari rasa takut kalau keponakannya mengalami sesuatu," sebutnya.
Rasa takut itu menjadi fondasi emosi yang membangun seluruh tindakan Cia sepanjang cerita. Pendekatan ini membuat karakternya tidak sekadar hadir sebagai korban atau penyelamat, melainkan figur dengan dorongan personal yang kuat.
Selain pendalaman karakter, Prilly harus menjalani latihan fisik dan conditioning untuk mendukung adegan aksi sebagai Cia. Ia mengaku rutin berolahraga cardio, tetapi latihan khusus untuk film ini menghadirkan tantangan tersendiri.
"Kami benar-benar melakukan latihan fisik dan conditioning untuk mempersiapkan adegan-adegan tersebut. Kebetulan olahraga saya lebih banyak cardio, jadi ketika mulai menjalani latihan fisik untuk film ini, saya baru merasakan tantangannya," pungkasnya.
Bagian tersulit baginya adalah menyelaraskan hafalan gerakan fisik dengan emosi yang harus dibangun karakter. Kombinasi keduanya menuntut konsentrasi ekstra, terutama saat pengambilan gambar adegan aksi berlangsung.
Memburu Pemangsa menambah daftar film horor Indonesia yang mengangkat persoalan sosial, bukan hanya mengandalkan jumpscare. Bagi Prilly, proyek ini menjadi langkah lain setelah ia lama dikenal lewat karakter di franchise horor populer Tanah Air.