Pemerintah Tambah 100 GW Listrik, Butuh Investasi US$73 Miliar

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Selasa, 22 September 2026 | 14:37:01 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka forum Electricity Connect 2026 di Jawa Tengah, Selasa (22/9).

JAWA TENGAH — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan program penambahan kapasitas pembangkit listrik hingga 100 gigawatt dengan porsi energi baru terbarukan 70 persen dalam RUPTL. Kebutuhan investasi untuk merealisasikan program tersebut ditaksir mencapai US$70 miliar hingga US$73 miliar. Rencana ini menjadi bagian dari komitmen Indonesia mengejar target Net Zero Emission pada 2050 hingga 2060.

Pemerintah menegaskan arah transisi energi nasional tidak akan berubah meski menghadapi dinamika global terkait komitmen perubahan iklim. Program penambahan 100 GW pembangkit listrik disiapkan sebagai langkah konkret, bukan sekadar wacana di atas kertas.

Bahlil menyampaikan hal tersebut saat membuka forum Electricity Connect 2026. Ia menekankan bahwa agenda transisi menuju energi baru terbarukan tetap berjalan sesuai jalur yang sudah ditetapkan.

Porsi EBT 70 Persen dalam RUPTL

Pemerintah mendorong peningkatan porsi energi baru terbarukan hingga 70 persen dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik. Angka tersebut menjadi target ambisius mengingat bauran energi nasional saat ini masih didominasi pembangkit fosil.

Bahlil menegaskan komitmen pemerintah tidak akan goyah oleh tekanan eksternal. "Indonesia tak akan bergeming dan tetap konsisten untuk memenuhi target net zero emission kita di 2050 sampai tahun 2060," ujarnya dalam pembukaan Electricity Connect 2026, Selasa (22/9).

Ia menambahkan bahwa program ini dirancang dengan pendekatan konkret. "Caranya bukan hanya tema, langsung dibuat program konkret. Di RUPTL kita dorong 70% energi baru terbarukan dan kita menambah 100 gigawatt," kata Bahlil.

Untuk membiayai seluruh program, pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi menembus US$70 miliar hingga US$73 miliar. Bahlil menekankan kerja sama lintas pihak harus memberikan manfaat merata, dengan tetap mengutamakan penggunaan komponen dalam negeri.

PLN Siap Bangun Transmisi 48.000 Kilometer

Dari sisi pelaksana, PT PLN (Persero) menyatakan kesiapan menjalankan arahan pemerintah. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo memaparkan bahwa pengembangan infrastruktur listrik nasional mencakup pembangunan kapasitas baru dalam skala besar melalui RUPTL.

Selain pembangkit, PLN juga akan membangun jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer sirkuit. Jaringan ini dibutuhkan untuk menyalurkan listrik dari pusat-pusat pembangkit baru ke wilayah yang membutuhkan pasokan.

"Jawabannya hanya satu, siap Bapak laksanakan. Epicentrum the new development of energy ada di Indonesia," ujar Darmawan.

Darmawan saat ini juga menjabat sebagai Penasehat Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia. Posisi ganda itu membuatnya terlibat langsung dalam koordinasi antara regulator dan operator kelistrikan.

Kolaborasi Jadi Kunci

Skala investasi yang dibutuhkan membuat pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Penguatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan investor menjadi prasyarat agar rencana pengembangan energi berjalan sesuai arah kebijakan.

Forum Electricity Connect 2026 digelar sebagai ruang temu berbagai pemangku kepentingan. Acara tersebut dihadiri ribuan delegasi, ratusan pembicara, serta peserta pameran dari dalam dan luar negeri.

Bagi pelaku industri, kepastian regulasi dan skema pendanaan menjadi faktor penentu apakah target 100 GW bisa tercapai sesuai jadwal. Pembangunan transmisi 48.000 kilometer sirkuit juga menuntut perencanaan lahan dan perizinan yang matang di sejumlah daerah.

Rencana penambahan 100 GW dan kenaikan porsi EBT dalam RUPTL menjadi fondasi penguatan sistem kelistrikan nasional. Jika terealisasi, kapasitas pembangkit dan jaringan transmisi yang dibangun akan menopang kebutuhan energi Indonesia sekaligus menjadi bagian dari perjalanan menuju target NZE 2050 hingga 2060.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top