JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka turun 0,25 persen atau 45 poin ke posisi Rp17.892 per dolar AS, melanjutkan pelemahan 0,50 persen pada penutupan Senin kemarin di level Rp17.847. Penguatan indeks dolar AS ke 100,43 menyusul pernyataan hawkish pejabat The Fed, Austan Goolsbee, menambah tekanan terhadap mata uang domestik. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang digelar besok diprakirakan menahan suku bunga, langkah yang menurut analis justru membatasi dukungan bagi rupiah.
Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan tertekan sepanjang perdagangan hari ini. Menurutnya, pergerakan mata uang domestik akan berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Tekanan datang dari dua sisi sekaligus: penguatan dolar AS di pasar global dan minimnya katalis positif dari dalam negeri menjelang keputusan suku bunga bank sentral.
Indeks dolar AS bergerak di level 100,43, naik 0,2 persen dibandingkan hari sebelumnya. Penguatan terjadi setelah pejabat The Fed, Austan Goolsbee, menyampaikan pernyataan bernada hawkish atau ketat.
"Pernyataan tersebut kembali meningkatkan ekspektasi suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi," ucap Lukman.
Ekspektasi suku bunga AS yang bertahan tinggi membuat imbal hasil aset dolar AS lebih menarik dibandingkan aset negara berkembang. Kondisi ini memicu perpindahan dana ke pasar Amerika Serikat dan memberi tekanan lanjutan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung besok diprakirakan mempertahankan suku bunga acuan. Lukman menilai keputusan itu tidak akan memberikan dorongan signifikan bagi rupiah.
"Nilai tukar rupiah hari ini diprakirakan akan bergerak di kisaran Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS," ujar Lukman.
Bank Indonesia dalam pernyataannya Senin kemarin menyebut tensi geopolitik sebagai penyebab utama berlanjutnya pelemahan rupiah. Konflik yang berkepanjangan mendorong harga minyak tetap tinggi dan memicu kekhawatiran inflasi global.
Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya. Intervensi dilakukan melalui instrumen pasar valas dan pengelolaan likuiditas.
Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, pelemahan rupiah menambah beban biaya impor dan pembayaran utang valas. Eksportir justru mendapat angin segar karena penerimaan dalam dolar AS setara lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
Investor pasar obligasi mencermati pergerakan yield surat berharga negara. Pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi mendorong aksi jual di pasar SBN, terutama oleh investor asing yang menghitung imbal hasil dalam dolar AS.