JAWA TENGAH — Film ini tayang di bioskop mulai Jumat (25/9). Latif harus menyeimbangkan pekerjaan berbahaya dengan tanggung jawab sebagai orang tua tunggal bagi tiga anaknya.
Latif adalah mantan Marinir yang melanjutkan pekerjaan membunuh di kampung halamannya. Ia bekerja untuk Mike, seorang pria kaya dan korup. Pekerjaan ilegal itu membuatnya dijauhi sang adik, Talib, yang hidup bersih di pinggiran kota, serta mertuanya, Abdul Malik, yang tidak menyetujui jalan hidupnya.
Latif digambarkan sebagai pria kuat, pendiam, dan mematikan dengan pisau. Namun ia juga seorang ayah. Ketika istrinya, Khadijah, tiba-tiba meninggal, hidupnya berubah drastis.
Ia kini harus menjawab pertanyaan Fatiha, anak perempuannya yang remaja dan cerdas, yang mempertanyakan banyak hal. Qadir, anak lelakinya yang taat beragama, memaksanya menghadapi iman yang sempat pudar. Sementara Aziza, bayinya, kehilangan asi dan kenyamanan dari ibunya.
Prioritas Latif berubah cepat. Hidupnya jadi pencarian tanpa henti akan asi untuk bayinya. Fatiha mencoba memberi susu formula, tapi Aziza tidak bisa mencernanya. Rasa lapar bayi itu menjadi cerminan ketidakmampuan Latif menggantikan peran istrinya.
Terbiasa jadi pencari nafkah, Latif harus belajar sisi mengasuh yang selama ini ia abaikan. Sutradara sekaligus penulis Bassam Tariq menampilkan sosok yang jarang muncul di layar Amerika: pria Muslim kulit hitam yang digambarkan dengan lembut, dengan keluarga dan iman sebagai jangkar.
Di Houston, Latif membuat musuh berbahaya: Pastor Kwan, diperankan John Cho. Kwan adalah veteran bermasalah yang mengaku sebagai orang beriman. Jika Latif membunuh untuk bertahan hidup, Kwan hanya mengejar kekuasaan.
Cho tampil melawan tipe sebagai Kwan yang tidak stabil dan akrab dengan budaya Amerika. Karakternya terobsesi pada senjata, mengontrol perempuan, dan mengobarkan perang budaya buatan. Dengan gigi emas dan topi koboi, Cho menguasai layar setiap kali beradu akting dengan Ali.
Ali dinilai sempurna memerankan Latif, pria pendiam yang memancarkan kehangatan sekaligus kekuatan. Sejak Moonlight, Ali disebut sebagai aktor hebat yang mencari peran layak bagi bakatnya. Peran Latif disebut cocok dengan Ali dan zaman yang dihadapi saat ini.
Di tengah islamofobia yang meluas di dunia, film ini dianggap melegakan karena tidak menyebarkan propaganda buruk tentang Islam. Tariq juga mengeksplorasi bentuk maskulinitas yang memberi ruang bagi seluruh emosi manusia. Pada akhir film, Latif tidak hanya belajar jadi ayah yang lebih baik, tapi juga menjadi pria yang lebih baik.
Film ini diproduksi Two & Two Pictures dan didistribusikan Amazon MGM Studios. Selain Ali, film ini dibintangi Giancarlo Esposito, John Cho, Tramell Tillman, Abubakr Ali, Laith Nakli, Tiffany Boone, Adia, Jahleel Kamara, John Henry Ward, dan Shakirah DeMesier.
Tariq bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis. Ia juga memproduseri bersama Lucan Toh dan Babak Anvari, dengan Brian Sonderman sebagai co-producer dan Katelin Arizmendi sebagai sinematografer.