SEMARANG — Sebanyak 7 potensi energi baru terbarukan di Jawa Tengah tengah dikaji Lemhannas RI dalam Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN) Program Pendidikan Reguler (P4N) Angkatan LXX. Hasil kajian ini akan diserahkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan kebijakan energi.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyambut baik kajian tersebut. Menurutnya, rekomendasi dari Lemhannas menjadi momentum untuk menguji program energi yang selama ini berjalan.
"Rekomendasi dari hasil studi tersebut akan dikembalikan kepada kami untuk menjadi bahan evaluasi secara komprehensif," kata Luthfi seusai menerima peserta SSDN di Gedung Merah Putih Lantai 10, Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026).
Luthfi menyebut Jawa Tengah memiliki sejumlah potensi EBT yang bisa dioptimalkan. Beberapa di antaranya yang menjadi sorotan utama dalam kajian ini:
Pemprov Jateng telah menyiapkan dukungan kebijakan melalui pemberian insentif perpajakan sesuai kewenangan daerah. Sinergi dengan pemerintah pusat juga diperkuat lewat nota kesepahaman bersama Kementerian ESDM.
"Program yang sudah berjalan akan kami evaluasi. Kami menunggu rekomendasi dari Lemhannas untuk menjadi dasar pengembangan lebih lanjut," ujarnya.
Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily menjelaskan, Jawa Tengah dipilih karena memiliki pengalaman konkret dalam mengembangkan berbagai sumber energi alternatif. Wilayah ini dinilai representatif untuk memetakan tantangan dan peluang transisi energi di tingkat provinsi.
"Jawa Tengah kami pandang penting dijadikan lokus studi Lemhannas karena telah menyelenggarakan berbagai upaya untuk memperkuat ketahanan energi nasional," kata Ace.
Ace menegaskan, ketahanan energi berkaitan erat dengan ketahanan nasional secara keseluruhan. Ketergantungan pada energi konvensional perlu dikurangi di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi dunia.
Dia mengingatkan, pengembangan EBT tidak boleh hanya berorientasi pada investasi dan teknologi. Aspek sosial serta keterlibatan masyarakat di lokasi pengembangan harus menjadi prioritas. Pengembangan panas bumi, misalnya, perlu dibarengi komunikasi persuasif kepada warga sekitar proyek.
"Jangan sampai pengembangan energi hanya berbicara soal investasi dan teknologi, tetapi mengabaikan masyarakat yang berada di sekitar wilayah pengembangan," ungkap Ace.
Setelah menerima arahan dari Gubernur Jawa Tengah, peserta SSDN P4N Angkatan LXX akan melakukan pendalaman di sejumlah wilayah. Perangkat daerah, pemerintah kabupaten/kota, dan instansi terkait akan terlibat dalam proses pendampingan hingga penyusunan rekomendasi.
Luthfi berharap studi ini tidak berhenti sebagai kajian akademis. "Kalian adalah masa depan negara dan bangsa," pesannya kepada para peserta.
Bagi Jawa Tengah, pengembangan EBT menjadi bagian dari strategi membangun ketahanan energi yang lebih mandiri, berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.