Cekcok Warnai Prosesi Sekaten Solo, GKR Rumbay Sebut Pemindahan Gamelan Kyai Sekati Tak Dapat Izin PB XIV Purbaya

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:32:01 WIB
Suasana tegang mewarnai prosesi pemindahan Gamelan Kyai Sekati di Masjid Agung Solo, Sabtu (14/9/2024).

SOLO — Suasana khidmat tradisi Sekaten di Solo terus menjadi sorotan publik setelah beredar video yang merekam aksi adu mulut antara GKR Panembahan Timoer Rumbay dengan sejumlah pria penjaga di kawasan Masjid Agung Solo, Sabtu (14/9/2024). Peristiwa itu terjadi di tengah prosesi pemindahan pusaka Gamelan Kyai Sekati yang semestinya berlangsung sakral.

Dalam rekaman yang diunggah akun Instagram @seputar_surakarta, terlihat GKR Rumbay bersitegang dengan sejumlah pria berbaju batik. Pada momen lain, ia bahkan tampak berupaya memaksa masuk ke Bangsal Pagongan, namun langkahnya terhalang oleh para penjaga.

Pemicu Kericuhan: Perbedaan Pandangan Soal Perizinan Pusaka

Kericuhan ini berakar dari perbedaan pandangan mengenai pemindahan Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari dari Keraton menuju Masjid Agung. GKR Rumbay menegaskan bahwa langkah tersebut tidak seizin PB XIV Purbaya yang ia yakini sebagai raja sah. Ia bahkan mengaku sempat terjatuh akibat dorongan saat insiden terjadi.

"Nggak usah, saya nggak mau ramai," ujarnya singkat kepada awak media saat dimintai keterangan lebih lanjut.

Klaim LDA: Rangkaian Acara Telah Dikoordinasikan dengan Instansi Terkait

Di sisi lain, Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi, yang berada di lokasi sempat melerai ketegangan. Ia membantah tudingan tersebut dengan menegaskan bahwa seluruh rangkaian acara Sekaten telah mendapat izin dari PB XIV Mangkubumi selaku raja versi LDA. Pihaknya juga mengklaim telah berkoordinasi dengan instansi terkait.

"Kami seluruh rangkaian acara sekaten kita selenggarakan bersama-sama Sinuhun (PB XIV Mangkubumi) juga instansi terkait," bebernya.

Alasan Pemindahan Gamelan dari Pendopo Parangkarso

Sebelumnya, prosesi keluarnya gamelan dari Sasana Handrawina dipimpin langsung oleh Ketua LDA, GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng. Gamelan tersebut dibawa melalui Kori Kamandungan, Sitihinggil, melintasi Alun-Alun Utara, hingga akhirnya tiba di Masjid Agung.

Gusti Moeng menjelaskan bahwa pemindahan ini terpaksa dilakukan karena kondisi bangunan di tempat sebelumnya, yakni Pendopo Parangkarso, sudah rusak parah. Bangunan tersebut rencananya akan segera menjalani revitalisasi.

"Ada dua perangkat nggih, Guntur Madu dan Guntur Sari. Nah, ini memang sudah dipindah ke sini (Handrawina) dari tempat sana (Pendopo Parangkarso) karena di sana keadaannya sudah parah banget itu gedungnya dan itu termasuk apa, proyek revitalisasi nanti," katanya di Sasana Handrawina.

Hingga berita ini diturunkan, prosesi Sekaten di Solo masih berlangsung dengan pengamanan ketat dari aparat kepolisian dan TNI. Perbedaan interpretasi terkait legitimasi kepemimpinan di internal Keraton Kasunanan Surakarta memang kerap kali memicu dinamika tersendiri di setiap agenda budaya besar.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: jatengpos.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top