BATANG — Ancaman kekeringan akibat musim kemarau panjang mulai direspons nyata oleh Pemerintah Kabupaten Batang. Dispaperta setempat tidak hanya menyiagakan infrastruktur pengairan, tetapi juga mengubah pendekatan kepada petani agar lebih adaptif terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Sebanyak 50 desa di Kabupaten Batang kini telah memiliki pompa pengairan yang disiagakan oleh Dispaperta. Sarana ini diproyeksikan menjadi penopang utama kebutuhan air sawah ketika debit irigasi mulai menurun drastis pada puncak musim kemarau.
“Secara data, sekitar 50 desa sudah memiliki pompa pengairan. Itu menjadi salah satu persiapan kami menghadapi musim kemarau,” ujar Sekretaris Dispaperta Kabupaten Batang, Syam Manohara, Senin (20/7/2026).
Syam menegaskan bahwa keberhasilan musim tanam sangat bergantung pada kecukupan air. Ia mengingatkan para petani agar tidak lagi mengikuti kebiasaan musim tanam sebelumnya secara membabi buta.
“Kami mengimbau petani memperhitungkan ketersediaan air terlebih dahulu. Jangan memaksakan tanam jika kondisi sumber air belum memungkinkan,” katanya.
Keputusan menanam di musim kemarau, menurut Syam, harus didasarkan pada data debit air yang tersedia, bukan sekadar kebiasaan. Risiko puso atau gagal panen disebutnya akan semakin besar jika kebutuhan air tidak terpenuhi saat masa pertumbuhan tanaman.
Persiapan ini dilakukan untuk menghadapi musim tanam ketiga, bahkan kemungkinan musim tanam keempat. Dispaperta telah memetakan langkah-langkah mitigasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga meski pasokan air berkurang.
“Kami sudah mempersiapkan langkah-langkah yang harus ditempuh menghadapi musim tanam berikutnya, terutama jika musim kemarau berlangsung lebih panjang,” jelas Syam.
Dengan kesiapan pompa di 50 desa dan imbauan yang lebih ketat terkait waktu tanam, Pemkab Batang berharap sektor pertanian tetap bisa bertahan meski cuaca ekstrem mulai mengintai.