Tradisi Jamasan Kereta Kencana dan Pusaka Pemalang Malam Hari di Ndalem Notonagoro, Bupati Pimpin Ritual Bahasa Jawa

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 22:05:19 WIB
Bupati Pemalang memimpin prosesi jamasan kereta kencana dan pusaka di Ndalem Notonagoro malam hari.

PEMALANG — Pijar obor menerangi area sekitar Pendopo Kabupaten Pemalang saat prosesi pengambilan pusaka dimulai, Rabu (24/6/2026) malam. Bupati Anom Widiyantoro dan Wakil Bupati Nurkholes, didampingi istri masing-masing serta jajaran kepala perangkat daerah, berjalan kaki menuju Ndalem Notonagoro di Jalan Kyai Makmur, Kelurahan Kebondalem.

Diiringi pengombyong dan alunan musik tradisional, pusaka milik Kadipaten Pemalang diboyong dari pendopo menuju bangunan cagar budaya tersebut. Tradisi jamasan tahun ini mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya prosesi utama digelar pagi hari di garasi rumah dinas bupati, kali ini ritual inti dilaksanakan pada malam hari di Ndalem Notonagoro.

Doa dan Sambutan dalam Bahasa Jawa

Setibanya di lokasi, kegiatan diawali dengan doa bersama, laporan penyelenggara, dan sambutan bupati. Seluruh rangkaian verbal dalam acara tersebut disampaikan menggunakan bahasa Jawa. Hal ini menjadi penanda kuat bahwa tradisi ini tidak sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya merawat identitas budaya lokal.

Prosesi jamasan kemudian dimulai. Bupati Anom bersama KRAT Purwanto Condro Nagoro melakukan jamasan pusaka Kadipaten Pemalang. Bupati juga turun langsung menjamas kereta kencana Kyai Seto Mraman, sementara Wakil Bupati Nurkholes menjamas kereta kencana Kyai Turangga Jati. Rangkaian acara ditutup dengan pemotongan tumpeng.

Makna di Balik Ritual Jamasan

Bupati Anom Widiyantoro menegaskan bahwa jamasan bukanlah sekadar kegiatan merawat benda pusaka dan kereta kencana. Tradisi ini, menurutnya, merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan pengabdian para leluhur Pemalang.

“Pusaka bukan sekadar benda warisan, tetapi menyimpan sejarah dan menjadi saksi perjalanan waktu,” ujar Bupati Anom dalam sambutannya. “Dari para leluhur, kita belajar tentang kebersamaan, gotong royong, dan saling menghormati,” imbuhnya.

Perubahan kemasan tradisi tahun ini dinilai memberikan suasana baru yang lebih khidmat. Pemilihan Ndalem Notonagoro sebagai lokasi utama juga memperkuat nilai historis acara, mengingat bangunan tersebut merupakan cagar budaya yang menyimpan jejak kepemimpinan masa lalu di Pemalang.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: joglojateng.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top