KA Joglosemarkerto Layani 458.938 Penumpang di Jawa Tengah–DIY, Jadi Andalan Mahasiswa dan Pekerja Lintas Kota

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Jumat, 22 Mei 2026 | 14:41:43 WIB
KA Joglosemarkerto melayani 458.938 penumpang di Jawa Tengah dan DIY pada Januari–April 2026.

SEMARANG — PT Kereta Api Indonesia (Persero) melaporkan peningkatan signifikan jumlah pengguna KA Joglosemarkerto pada Januari hingga April 2026. Angka tersebut naik dari 411.931 penumpang pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 458.938 penumpang, atau tumbuh 11,41 persen.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, pola perjalanan melingkar kereta ini menjadi faktor utama efisiensi mobilitas masyarakat. Penumpang bisa bepergian antarkota seperti Solo, Semarang, Tegal, Purwokerto, dan Yogyakarta dalam satu perjalanan tanpa harus berganti moda.

Dua Rute dengan Volume Tertinggi

Dari seluruh perjalanan yang beroperasi, dua relasi mencatat jumlah penumpang paling padat. KA 187 dengan rute Solo Balapan–Semarang Tawang–Tegal–Purwokerto–Solo Balapan melayani 168.971 penumpang. Sementara KA 193 relasi Solo Balapan–Purwokerto–Tegal–Semarang Tawang–Solo Balapan membawa 160.401 penumpang.

Kedua rute ini mencakup kota-kota yang menjadi pusat aktivitas pendidikan dan ekonomi di Jawa Tengah. Data BPS 2025 mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi DIY mencapai 74,70 persen, tertinggi secara nasional. Jawa Tengah juga memiliki konsentrasi kampus besar di Semarang, Solo, Purwokerto, dan Salatiga.

Mengapa Mahasiswa dan Pekerja Beralih ke Kereta?

Efisiensi waktu dan biaya menjadi alasan utama. Seorang mahasiswa yang kuliah di Semarang tetapi tinggal di Solo, misalnya, bisa pulang-pergi setiap akhir pekan tanpa biaya bahan bakar atau tol. “Mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien karena pelanggan dapat bepergian antarkota untuk pendidikan, pekerjaan, wisata, maupun aktivitas ekonomi lainnya,” ujar Anne dalam pernyataan resminya.

Kereta ini juga memperkuat konektivitas ke destinasi wisata unggulan. Dari Stasiun Yogyakarta, penumpang bisa turun menuju Malioboro dan Candi Prambanan. Dari Solo, tersambung ke Keraton Surakarta dan Kampung Batik Laweyan. Sementara dari Semarang, akses ke Kota Lama dan Lawang Sewu terbuka lebar.

Dampak bagi Ekonomi dan Pariwisata Lokal

KAI menilai tren ini menunjukkan peran kereta api telah bergeser. Bukan sekadar alat transportasi, melainkan penggerak aktivitas ekonomi dan sosial lintas kota. Pelaku UMKM di sekitar stasiun, misalnya, merasakan dampak langsung dari meningkatnya arus penumpang yang singgah.

Mobilitas mahasiswa yang tinggi juga mendorong pertumbuhan sektor kos, tempat makan, dan jasa transportasi lokal di kota-kota yang dilewati jalur Joglosemarkerto. Dengan pola perjalanan yang tidak memerlukan transit, waktu tempuh antar kota menjadi lebih singkat dan terprediksi.

KAI belum merilis proyeksi jumlah penumpang hingga akhir tahun. Namun, jika tren empat bulan pertama berlanjut, Joglosemarkerto berpotensi menembus lebih dari 1,3 juta penumpang sepanjang 2026.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: mili.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top