SLAWI — Ratusan petani di dua kecamatan, Warureja dan Suradadi, kini berada dalam tekanan setelah sumber irigasi utama mereka, Bendung Cipero, ambrol diterjang banjir. Kondisi ini memicu krisis air yang mengancam ribuan hektare sawah yang seharusnya mulai memasuki masa tanam.
Ketua DPRD Kabupaten Tegal, Wasbun Jauhara Khalim, bersama tiga pimpinan dewan lainnya, Sugon, Rudi Indrayani, dan Agus Solichin, mendatangi Kantor Kementerian PU di Jalan Pattimura, Jakarta. Mereka menyampaikan satu tuntutan: penanganan Bendung Cipero tidak boleh ditunda lagi.
Bendung Cipero yang berlokasi di Desa Kedungjati, Kecamatan Warureja, jebol pada awal Maret 2026. Akibatnya, aliran irigasi utama ke areal persawahan seluas 7.643 hektare terputus total. Di lapangan, kondisi ini terlihat nyata: saluran irigasi kering dan tanah sawah mulai retak-retak.
“Kami mendesak agar pemerintah pusat melalui Kementerian PU segera turun tangan menyelamatkan ribuan hektare lahan pertanian yang kini terancam gagal tanam akibat bendung jebol diterjang banjir. Bendung Cipero tak bisa lagi menunggu,” tegas Wasbun dalam pernyataannya di Jakarta.
Dalam pertemuan dengan pejabat Kementerian PU, Wasbun mendorong agar perbaikan permanen yang semula dijadwalkan masuk usulan tahun 2027 bisa dipercepat menjadi pertengahan 2026. Ia menilai, menunggu hingga tahun depan akan membawa dampak yang terlalu besar.
“Kalau menunggu 2027, dampaknya terlalu besar. Bukan hanya pertanian lumpuh, tapi ancaman banjir di sepanjang Kali Rambut juga semakin parah,” ujar Wasbun.
Menurutnya, perbaikan darurat sangat mendesak dilakukan agar aliran air ke pintu irigasi pertanian bisa kembali normal. Ketiadaan air saat ini menjadi ancaman serius bagi keberhasilan panen dan ketahanan pangan di daerah tersebut.
Sebelum melangkah ke tingkat pusat, Wasbun telah melakukan tinjauan langsung ke lokasi Bendung Cipero pada Rabu, 1 April 2026. Ia datang didampingi Kepala Dinas PUPR Kabupaten Tegal serta Kepala UPTD PSDA Wilayah 1 bersama tim teknis.
Saat itu, ia melihat langsung titik jebol bendung yang kini hanya menyisakan aliran air liar tanpa kendali. Saluran irigasi yang biasanya mengairi hamparan sawah pun tampak kering. Kekhawatiran atas nasib petani dan ancaman gagal panen sudah ia sampaikan usai melakukan peninjauan tersebut.
Keputusan Kementerian PU atas desakan ini kini dinanti oleh ribuan petani di Warureja dan Suradadi. Mereka berharap perbaikan segera dilakukan agar musim tanam tidak sepenuhnya hilang.