SEMARANG — Tenaga Ahli Wamenkomdigi, Dr. Riant Nugroho, secara blak-blakan menyebut bahwa pemerintah daerah sebaiknya tidak menjadikan popularitas di platform digital sebagai target utama. Ia mengibaratkan posisi pemerintah seperti seorang bapak dalam keluarga yang bekerja dalam senyap, bukan yang sibuk mencari perhatian.
"Maka menurut saya pemerintah jangan mencari popularitas. Bisa diibaratkan di keluarga, pemerintah itu adalah Bapak, yang tidak banyak omong, kerja dalam senyap," tegas Riant di hadapan peserta bimtek.
Menurut Riant, produk utama yang harus dikelola pemerintah di era digital adalah big data. Data tersebut harus dihimpun dan diolah melalui website resmi sebagai induk informasi. Dari sana, informasi dipecah menjadi konten-konten media sosial yang strategis dengan memanfaatkan algoritma, jurnalisme media, hingga homeless media.
Kepala Bagian Humas dan Protokol Biro Umum Setda Prov Jateng, Dicky Adinurwanto, mengakui pihaknya kerap kewalahan menghadapi hoaks yang beredar masif. Ia menyebutkan, data menunjukkan 82,57 persen masyarakat Jawa Tengah kini mengakses media online, sehingga pendekatan rilis konvensional ala media mainstream tidak lagi cukup untuk menjangkau mereka di media sosial.
"Kami seringkali kewalahan ya dengan informasi hoak, bagaimana menangkalnya, dan bagaimana meng-counter-nya, ya kami harus punya strategi," ujar Dicky. Ia mendukung instruksi Gubernur agar seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jateng berperan sebagai Public Relation.
Perencana Ahli Madya Puspen Kemendagri, Zainudin, mengkritisi pengelolaan website pemerintah daerah yang kerap tidak terstruktur. Ia menyoroti lambatnya respons terhadap isu terkini serta data yang tidak sinkron. Konten media sosial yang cenderung seremonial dan rilis yang menggunakan bahasa sulit dipahami juga menjadi catatan kritisnya.
"Apa yang harus dilakukan oleh website pemda? tidak hanya diposting, harus terstruktur, cepat, tanggap dengan isu-isu terbaru apalagi yang berpotensi dengan dampak negatif terhadap pemerintah," jelas Zainudin. Ia menekankan pentingnya informasi yang disajikan memiliki dampak nyata dan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar laporan kegiatan seremonial.
Mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI), Zainudin mengingatkan prinsip kehati-hatian. Ia menegaskan bahwa data penting dan rahasia negara tidak boleh diproses menggunakan AI publik.
"Pakai AI harus yang aman juga, jangan data-data yang penting dan rahasia menggunakan AI. Prinsipnya AI adalah alat bantu, bukan menggantikan," pungkasnya.
Bimtek yang dipandu oleh Asep Saefullah, Head of Community Local Media Community Suara.com, ini menjadi pembuka rangkaian Jateng Media Summit 2026. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada Kamis (21/5/2026) di lokasi yang sama.